Rabu, 23 November 2011

PROSES PEMBUATAN GULA DARI TEBU PADA PG X

PROSES PEMBUATAN GULA DARI TEBU PADA PG X



ABSTRAK


Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pembuatan gula dari tebu pada PG X. Dari hasul penelitian diketahui bahwa Pada dasarnya peoses pembuatan gula di PG X adalah melalui 6 tahap yaitu: Stasiun penggilingan, Stasiun pemurnian nira, Stasiun penguapan, Stasiun kristalisasi, Stasiun pemisahan, Stasiun penyelesaian. Sedangkan Utilitas yang digunakan ada 4 yaitu: Air, Uap, Listrik, Udara

PENDAHULUAN


Gula merupakan salah satu kebutuhan yang penting bagi kita, karena hampir setiap hari kita tidak pernah terlepas dari mengkonsumsi gula. Tetapi banyak sekali dari kita yang tidak mengetahui dari apakah bahan baku gula serta bagaimanakah proses pembuatan gula. Disini peneliti ingin membahas tentang proses pembuatan gula dari tebu di PG X.
            Proses yang digunakan dalah proses sulfitasi alkalis yang menghasilkan gula jenis SHS IA. Pengolahan tebu menjadi kristal melalui beberapa stasiun. Di pembahasan akan dibahas secara lebih jelas kegiatan dari masing-masing stasiun dan proses dari awal sampai akhirnya menjadi gula yang siap untuk kita konsumsi.

TINJAUAN PUSTAKA


Gula


Dalam kehidupan sehari-hari orang telah mengenal gula sebagai bahan makanan pokok, baik untuk minuman ataupun makanan. Sebagai sumerr utama dari gula adalah dari berbagai macam tanaman, yang dapat digolongkan sebagai penghasil gula antara lain: tebu, beet, kelapa aren (enau). Untuk daerah tropis tebu merupakan tanaman utama sebagai penghasil gula, dismping kelapa dan enau. Tebu mengandung hidrokarbon yang terjadi dalam tanaman karena proses fotosintesa. Karbohidrat-karbohidrat ini terdiri dari monosakarida (glukosa, fruktosa), disakarida (sakharosa), dan polisakharida (selulosa).
            Dalam fotosintesa terjadi reaksi antara CO2 dan H2O dibantu tenaga sinar matahari dan zat hijau daun (khlorofil) menghasilkan akrbohidrat monosakarida.
            Reaksi 6CO2 + 6H2O + kalori ------à C6H12O6 + 6O2
Contoh hasil analisa batang tebu adalah sebagai berikut :
Monosakarida ……………….……………………: 0,5 - 1,50 %
Sakharosa (disakarida) ……………….………...…: 0,5 - 1,50 %
Zat organic (abu) …………………………….……: 11,0 – 19,00 %
Asam-asam organic …………………………..…...: 0,15 %
Bahan lain (blenok, lilin, zat warna, ikatan N) …....: 12,00 %
Air …………………………………………………: 65,0-75,00 %

            Susunan tebu ini tidak sama utnuk semua tebu, tergantung pada keadaan tanah iklim, pemeliharaan tanaman dan macam tebu. Sakharosa merupakan komponen yang akan dibuat menjadi gula, sehingga senyawa inilah yang akan diambil sebanya-banyaknya dari tebu utnuk dipisahkan dari bagian-bagian lain dan kristalkan menjadi gula.
            Sakharosa adalah karbohidrat yang mempunyai rumus molekul C12H22O11, disakharida dan satu molekul fruktosa.
Sifat-sifat fisik sakharosa :
Rumus molekul : C12H22O11
Bentuk kristal dan tak berwarna
Mudah larus dalam air dan tidak larut dalam eter. Berat jenis : 1,6
Titik lebur : 185 ­0C
Dalam suasana asam mudah terhidrolisa menjadi gula reduksi, peristiwa ini disebut inverse.
Reaksi : C12H22O11 + H2O --------- C6H12P6 + C6H12P6
Optis aktif (memutar bidang polariasasi kekanan) (Respati, 1980)

Proses Pembuatan Gula


            Pembuatan gula dari tebu adalah proses pemisahan sakharosa yang terdapat dalam batang tebu dari zat-zat lain seperti air, zat organic, sabut. Pemisahan dilakukan dengan jalan tebu digiling dalam beberapa mesin penggiling sehingga diperoleh cairan yang disebut nira.
            Nira yang diperoleh dari mesin penggiling dibersihkan dari zat-zat bukan gula dengan pemanasan dan penambahan zat kimia. Sedangkan ampas digunakan bahan ketel uap.

1.      Pemurnian Nira

Pelaksanaan pemurnian dalam pembuatan gula dibedakan menjadi 3 macam yaitu:
a.       Proses Defekasi
Pemurnian cara Defekasi adalah car pemurnian yang paling sederhana, bahan pembantu hanya berupa kapur tohor. Kapur tohor hanya digunakan untuk menetralkan asam-asam yang terdapat dalam nira. Nira yang telah diperoleh dari mesin penggiling diberi kapur sampai diperoleh harga pH sedikit alkalis (pH 7,2). Nira yang telah diberi kapur kemudian dipanaskan sampai mendidih. Endapan yang terjadi dipisahkan
b.      Proses Sulfitasi
Pada pemurnian cara sulfitasi pemberian kapur berlebihan. Kelebihan kapur ini dinetralkan kembali dengan gas sulfite. Penambahan gas SO2 menyebabkan : SO2 bergabung dengan CaO membentuk CaSO3 yang mengendap. SO2 memperlambat reaksi antara asam amino dan gula reduksi yang dapat mengakibatkan terbentuknya zat warna gelap. SO2 dalam larutan asam dapat mereduksi ion ferrri sehingga menurunkan efek oksidasi.
       Pelaksanaan proses sulfitasi adalah sebagai berikut:
·         Sulfitasi dingin
Nira mentah disulfitasi samapai pH 3,8 kemudian diberi kapur sampai pH 7. Setelah itu dipanaskan sampai mendidih dan kotorannya diendapkan
·         Sulfitasi panas
Pada proses sulfitasi terbentuk garam CaSO3 yang lebih mudah larut dalam keadaan dingin, sehingga waktu dipanaskan akan terjadi endapan pada pipa pemanas. Untuk mencegah hal ini pelaksanaan proses sulfitasi dimodifikasi sebagai berikut :
Dimulai dengan nira mentah yang dipanaskan sampai 70-80 0C, disulfitasi, deberi kapur, dipanaskan sampai mendidih dan akhirnya diendapkan. Pada suhu kira-kira 750C kelarutan CaSO3 paling kecil.
·         Pengapuran sebagian dan sulfitasi
Bila dicara sulfitasi panas tidak dapat memberikan hasil yang baik maka dipakai cara modifikasi berikut : pengapuran pertama sampai pH 8,0 pemanasan sampai 50-700C, sulfitasi samapai pH 5,1-5,3 pengapuran kedua sampai pH 7-7,2 dilanjutkan dengan pemanasan dengan pemanasan sampai mendidih dan pengendapan. (E.Hugoit, 1960).
Pelaksanaan sulfitasi dipanadang dari sudut kimia dibagi menjadi 3 yaitu :
·         Sulfitasi Asam
Nira mentah disulfitasi dengan SO2 sehingga dicapai pH nira 3,2. Sesudah sulfitasi nira diberi larutan kapur sehingga pH 7,0-7,3.
·         Sulfitasi Alkalis
Pemberian larutan kapur sehingga pH nira 10,5 dan sesudah itu diberi SO2 pH nira menjadi 7,0-7,3
·         Sulfitasi Netral
Pemberian larutan kapur sehingga pH nira 8,5 dan ditambah gas SO2 pH nira menjadi 7,0-7,3. (Halim K, 1973)
·         Proses Karbonatasi
c.       Proses Karbonat
Cara ini merupakan yang paling baik disbanding dengan keduacara diatas. Sebagai bahan pembantu untuk pemurnian nira adalah susu kapus dan gas CO2. Pemberian susu kapur berlebihan kemudian ditambah gas CO2 yang berguna utnuk menetralkan kelebihan susu sehingga kotoran-kotoran yang terdapat dalam nira akan diikat.
Reaksi : Ca(OH)2 ------- CaCO3 + H2O Karena terbentuknya endapan CaCO3 banya maka endapan dapat dengan mudah dipisahkan. (E. Hugot, 1960)

2.      Penguapan

Nira yang telah mengalami proses pemurnian masih mengandung air, air ini harus dipisahkan dengan menggunakan alat penguap. Penguapan adalah suatu proses menghilangkan zat pelarut dari dalam larutan dengan menggunakan panas. Zat pelarut dalam proses penguapan nira adalah air. Bila nira dipanaskan terjadi penguapan molekul air. Akibat penguapan, nia akan menajadi kental. Sumber panas yang digunakan adalah uap panas. Pada pemakaian uap panas terjadilah peristiwa pengembunan. Sistem penguapan yang dipakai perusahaan gula adalah penguapan efek banyak. (Soejardi, 1975)

3.      Pengkristalan

Proses pengkristalan adalah salah satu langkah dalam rangkaian proses di pabrik gula dimana akan dikerjakan pengkristalan gula dari larutan yang mengandung gula. Dalam larutan encer jarak antara molekul satu dengan yang lain masih cukup besar. Pada proses penguapan jarak antara masing-masing molekul dalam larutan tersebut saling mendekat. Apabila jaraknya sudah cukup dekat masing-masing molekul dapat saling tarik menarik. Apbila pada saat itu disekitarnya terdapat skharosa yang menempel, keadaan ini disebut sebagai larutan jenuh.
            Pada tahap selanjutanya, bila kepekatan naik maka molekul-molekul dalam larutan akan dapat saling bergabung dan membentuk rantai-rantai molekul sakharosa. Sedangkan pada pemekatan lebih tinggi maka rantai-rantai sakharosa tersebut akan dapat saling bergabung pula dan membentuk suatu kerangka atau pola kristal sakharosa.

4.      Pengeringan

Gula yang keluar dari alat pemutar ditampung dalam alat getar (talang goyang). Talang goyang ini selain berfungsi sebagai alat pengengkut, juga sebagai lat pengering gula. Pengeringan ini menggunakan udara yang dihembuskan dari bawah, hal ini dimaksudkan untuk mengurangi kadar dimaksudkan untuk mengurangi kadar air dalam gula. Setelah pengeringan gla dimasukkan dalam karung dan disimpan digudang.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pembuatan gula di PGX terdiri dari beberapa stasiun yaitu :

1.      Stasiun Penggilingan

Tugas dari stasiun ini adalah mengambil nira dari batang  tebu sebanyak mungkin. Tebu-tebu yang telah ditebang diangkut dengan truk dan lori-lori. Tebu yang masuk ditimbang beratnya kemudian diangkut dengan lori masuk ke stasiun gilingan. Tebu diangkat dengan pesawat pengangkat tebu yang ebrkapsitas 10 ton.  Selanjutnya diletakan diatas meja tebu utnuk diumpankan kegilingan melalui krepyak tebu.
            Dalam tahap pertama tebu yang akan diperah untuk diambil niranya masuk ke crusher yang terdiri dari 2 buah rol crusher. Fungsi dari crusher adalah untuk emnghancurkan tebu menjadi potongan-potongan yang panjangya kira-kira 107,3 mmmm. Crusher tidak berfungsi sebagai alah pemerah, namun demikian nira sudah ada yang keluar ke mesin penggiling untuk dipers, diambil niranya..
            Mesin penggiling di PG X ada 4 unit, setiap unit terdiri 3 buah rol. Rol bagian atas saja yang digerakkan dan diberi tekanan kira-kira 300 kg/cm@, sedangkan rol yang dibawah akan berputar dengan sendirinya karena adanya aluralir dari setiap rol belakang.
            Tebu yang masuk ke gilingan I diperah hingga mendapatkan hasil nira yang sebanyak-banyaknya, dengan tekanan 300 kg/cm2. Hasil dari gilingan I adalah amapsa I dan nira I. Nira I ditampung, lewat saluran nira bertemu dengan nira crusher. Kedua nira ini disebut nira hasil perah pertama.
            Ampas I dibawa ke gilingan II yang bertekanan 300 kg/cm2, dengan alat pengangkutan “drag conveyer” untuk diperah lagi niranya. Untuk mendapatkan nira yang lebih banyak maka saat ampas I menuju gilingan II ditambah nira dari gilingan III. Hasil dari gilingan II ini adalah ampas II dan nira II. Nira dari crusher, nila gilingan I dan nira gilingan II disebut nira mentah. Niramentah dipompa ke bak penampung dan ampas II diperah lagi digilingan III untuk diambil niranya.
            Ampas II diangkut ke gilingan II yang bertekanan 300 kg/cm2, untuk diperah lagi krena masih ada niranya.  Pada gilingan III ini ditambah air imbibisi sebanya kira-kira 22% berat tebu yang akan digiling. Fungsi penambahan air imbibisi adalah utnuk mendapatkan prosentase pemerahan yang tinggi dan menekan kadar sakharosa yang ikut oleh ampas gilingan IV. Hasil dari gilingan III adalah ampas III dan nira III, dimana nira III dialirkan lewat saluran yang digunakan untuk nira imbibisi pada ampas I yang menuju ke gilingan II.
            Ampas III diangkut kegilingan IV yang bertekanan 300 kg/cm2. Hasil dari gilingan IV adalah ampas IV dan nira IV, dimana nira IV lewat saluran sebagai nira imbibisi pada ampas II yang menuju gilingan III. Sedangkan ampas IV diangkut dengna “drag conveyer” menuju ke tempat penyimpanan, yang nantinya ampas digunakan sebagai bahan baker ketel uap.

2.      Stasiun Pemurnian Nira

Pada stasiun ini nira emntah dibersihkan dengan cara menambah susu kapu Ca (OH)2 dana kemudian dialiri gas SO2. Setelah itu dilakukan pengendapan secara terus menerus. Proses ini dikenal dengan nama sulfitasi alkalis. Stasiun pemurnian nira dari beberapa bagian yaitu :
a.       Pemanas I (untuk nira mentah)
Nira mentah dari stasiun gilingan yang telah disaring terlebih dahulu dan telah mengalami  proses penimbangan dan penampungan dipompa kealat pemanas I. Pemanas yang ada di PG X berbentuk tegak, hal ini dimaksudkan untuk effisiensi tempat dan juga untuk memudahkan pembersihan apabila ada kerak yang menempel didalam pipa pemanas tersebut. Nira yang keluar dari pemanas I pada temperature kira-kira 720C, tujuan pemanasan ini adlah untuk mempercepat reaksi pada reactor dan juga untuk mematikan jasad renik (mikrobia). Bahan pemanas yang digunakan adalah uap bekas atau uap nira dari stasiun penguapan dan uap yang dihasilkan dari ketel uap.
b.      Pembuatan susu kapur
Batu kapur dibakar dalam tobong pada temperature 9000C dan tekanan 1 atmosfer. Reaksi CaCO3 --------- CaCO + CO2. Gas CO2 dibuang sedang CaO yang diperoleh ditambah air ditangki pencampur. Setelah tercampur disaring utnuk memisahkan kotorannya. Reaksi kapur dengan air :
CaO + H2O -------- Ca(OH)2. Setelah itu Ca (OH)2 dimasukkan kedalam tangki yang berpenganduk supaya campurannya homogen. Kekentalan susu kapur kira-kira 80Be.
c.       Pembuatan gas SO2
Belerang padat dimasukkan dalam tobong belerang, kemudian dibakar. Belerang akan mencair kemudian belerang cair akan menjadi belerang uap karena panasnya. Steusnya dialiri udara sehingga terbentuk gas SO2. Reaksinya : S + O2 ----------- SO2 + panas. Gas SO2 yang terjadi segera dialirkan melalui pipa yang dibagian luarnya diberi air sebagai pendingin. Kemudian dialirkan ke sublimator terakhir dialirkan ke peti sulfitasi
d.      Reakto (Sulfitator)
Nira yang telah melalui panas dimasukkan ke “defecator” untuk direaksikan dengan susu kapur Ca(OH)2. Proses ini berlansung secara terus menerus dan tujuannya agar pH larutan kira-kira 9,5. Kemudian larutan dimasukkan ke reactor, pada reactor ini dialirkan gas SO2 secara terus menerus dan terjadi reaksi sulfitasi. Tujuan penambahan gas SO2 ini adalah untuk pembentukan endapan CaSO3 dan dengan ini terjadi pembersihan kotoran.
Reaksi : H2O SO2 ------------- H2SO3
H2SO3 + Ca(OH)2 ----------- CaSO3 + 2H2O
e.       Peanas II (untuk nira kasar)
Setelah keluar dari reactor, nira kasar dipanaskan dalam pemanas II dengan menggunakan uap, sampai nira mempunyai suhu kira-kira 1000C, hal ini dimaksudkan untuk :
Menyempurnakan reaksi sulfitasi. Memperbanyak dan memeprcepat terbentuknya endapan CaSO3.
Mempercepat proses pengeluaran gas-gas terembunkan yang ada dalam nira. Dari pemanasan II nira kasar dialirkan ke “preloc tower” (menara flokulasi). Menara flokulasi adalah suatu alat yang berfungsi membebaskan gelembung-gelembung udara yang terdapat dalam nira. Pada menara ini ditambahkan zat flokulant yang bertujuan agara dapat reaksi pengendapan dapat berlansung dengan baik.
f.       Pengendapan
Tugas dari peti pengendapan adalah untuk mengendapkan kotoran-kotoran yang terjadi selama proses sulfitasi, sehingga dihasilkajn nira jernih dan nira kotor. Nira jernih dialirkan ke tangki penampung nira ernih, sedangkan endapannya (blotong) dibuang sebagai limbah.
g.      Pemanas III
Nira jernih dari tangki penampung dialirkan ke pemanas III sampai mencapai suhu 1100C. Tujuan pemanasan ini untuk mendekati titik didih nira, sehingga pada evaporator nira sudah siap mendidih dan proses penguapan segera terlaksana.

3. Stasiun Penguapan Nira

Setelah nira mentah mengalami proses pemurnian, selanjutnya dialirkan ke stasiun penguapan. Tujuan dari stasiun penguapan ini adalah untuk membuat nira encer (12,5°Brik) menjadi kental (60°Brik) dengan menggunakn beberapa badan penguapan yang bekerja secara seri. Untuk menghindari terjadinya karamelisasi karena suhu tinggi serta menghemat kalori, maka proses penguapan dilaksanakan pada suhu dibawah titik didihnya (tekanan vakum).
 Di PG X menggunakan system penguapan “quadrule effect” yang terdiri dari 5 badan penguapan. Drai 5 badan penguapan yang beroperasi hanya 4 badan, sebuan badan penguapan diistirahatkan untuk dibersihkan secara bergantian, badan II dapat ebrfungsi sebagai badan I dan badan IV dapat berfungsi sebagai badan terakhir.
Badan pemanas yang dipakai pada stasiun ini berasal dari uap air bekas dan bila perlu ditambah dari uap baru dari ketel. Uap dari badan penguap I dipakai untuk menaskan nira pada penguapan Ii dan sebagian disadap untuk bahan penguapan pemanas I. Uap dari nira dari badan penuapan II dipakai untuk memanaskan nira pada penguapan III. Uap nira dari badan penguap Iii dipakai untik memanaskan nira pada badan penguapan IV, sedangkan uap nira yang keluar dari badan penguap IV diembunkan dalam “barometric kondensor”.
Air embun yang berasal dari badan penguap I,II digunakan untuk air isian ketel dan air embun dari badan penguap III,IV digunakan untuk air imbibisi, air cucian filter press, air cucian puteran. Aliran nira dari setiap badan penguapan akan mengalir dengan sendirinya dikarenakan adanya perbedaan tekanan pada setiap badan penguapan.
Nira kental yang siap dari badan penguap IV ditampung dalam tangki kemudial dipompa kesulfitator. Disulfitator ini di tambahkan gas SO2, yang tujuannya untuk memucatkan zat-zat warna dalam nira yang semula berwarna coklat tau akan menjari lebih jernih dan disini PH diharapkan kira-kira 5,5. Nira kental yang keluar dari sulfitator ini masih mengandung belerang, maka dialirkan dulu ke tangki JSP (Juice Syrup Purification) untuk diberi floculant sehingga timbul kotoran-kotoran yang berlangsung secara kontinyu, nira bersihnya dipompa ke tangki penampungan nira kental dan siap untuk dimasak. Sedangkan kotoran-kotoran yang mengapung (buih) dialirkan ke stasiun pemurnian.



4. Stasuin kristalisasi Nira

Proses kristalisasi ini dipabrik gula lebih dikenal dengan nama proses pemasakan. Nira kental yang keluar dari stasiun penguapan mempunyal kekentalan kira-kira 60°rik, didalam stasiun kristalisasi diuapkan lagi sampai tinbul Kristal gula. Pengambilan gula dari nira kental tidak dapat hanya satu kal, tetapi harus dilakukan dalam beberapa tingkat. Pada PG X proses pengkristalan dengan system 3 tingkat. Hal ini diharapkan agar didapat produk SHSIA. Untuk mencegah karamelisasi sakharosa maka apda waktu memasak dilaksanakan pada tekanan vakum kira-kira 65 cmHG, sehingga pada pemanasan kira-kira 60°C diharapkan nira kental dalam pan pemasak sudah mendidih. Di PG X ada6 buah pan masakan A yang dipakai untuk memasak nira yang HK-nya (harga kemurnian) tinggi, masing-masing V)-nya 104 m2 dan volumenya 240 HL. Sebuah pan masakan B yang V)-nya 190 m2dan volumenya 250 HL. Dua buah pan masakan D yang VO-nya berturut-turut 125 m2, 200m2 dan volumenya 300 HL, 350 HL.
Pada pan masakan A ini diharapkan dapat mengkristalkan sakharosa yang terkandung dalam nira kental sebanyak-banyaknya. Nira kental dar penampungan nira kentali pompa ke pan masakan A, disini nira kental dipanaskan sampai mencapai kekentalan tertentu. Apabila keadaan ini telah tercapai ekkentalan baru “einwurf”(bibit) ditambahkan secukupnya kira-kira 30 HL. Dengan adanya penambahan bibit ini akan timbul butir-butir Kristal, apabila jarak antara butir Kristal yang satu dengan yang lain cukup dekat atau rapat maka ditambahkan klare SHS sehingga masakan menjadi encer kembali dengan harapan memberikan kesampatan pada Kristal untuk tumbuh lebih besar. Apabila pembentukan Kristal sudah sesuai dengan volume masakan yang dibutuhkan melalui palung-palung pendingin dan selanjutnya dipompa ke puteran A.
Pada pan masakan B ini yang dimasukan adalah stroop A dan bibit Kristal. Proses pemasakan pada pan masakan B ini sama dengan proses pemasakan pada pan masakan A. Setelah melalui pengontrolan dan Kristal sudah banyak maka hasil masakan tersebut diturunkan ke palung pendingin, kemudian dipompa ke centrifuge. Dari proses ini dihasilkan gula C2 (digunakan sebagai bibit) dan stroop B.
Pada pan amsakan D dimasukan stroop B dan klare D(stroop hasil pemutaran D2 yang kandungan gulanya rendah).  Hasil masakan diturunkan ke palung pendingin. Untuk pan masakan D karena menghasilkan gula D2  dan tetes, maka pada palung pendingin yang tujuannya supaya terjadi pristiwa pengkristalan kembali dan diharapkan kandungan gula dalam tetes kecil.

5. Stasiun Pemisahan

Hasil dari stasiun kristalisasi merupakan suatu campuran yang terdiri dari larutan dan Kristal sakharosa, sehingga perlu dipisahkan. Seteleh didinginkan kemudian dipisahkan antara Kristal dan larutan. Pemisahan dilakukan dalam “centrifuge” yang bekerja menggunakan gaya sentrifugal sebagai kekuatan pendorong.
Di PG X digunakan system putaran berganda yaitu putaran depan dan putaran belakang. Putaran depan terdiri dari putaran A,B dan D1.Sedangkan putaran belakang terdiri dari putaran SHS dan D2.
Masquite (Kristal sakharosa dan larutannya) dari maskan setelah dipompa ke putaran A. Diputaran A ini akan dipisahkan gula A dan stroop A. Stroop A digunakan sebagai bahan dasar pada pan masakan B, sedangkan gula A dipompa ke putaran SHS. Diputaran SHS ini ditambakan uap yang tujuannya membantu proses pengeringan. Pada putaran SHS ini akan dipisahkan gula SHS sebagai produk dan klare SHS dialirkan ke pan masakan A.
Pada putaran B dihasilkan stroop B yang digunakan sebagai bahan dasar pada pan masakan B dan D, dan gula B-nya dipompa ke putaran SHS. Pada putaran SHS ini dihasilkan klare SHS yang pada masakan A sebagai bahan campuran masakan dan gula B digunakan sebagai bibit (einwurf).
Pada putran D1 dihasilkan gula D dan srtoop yang disebut tetes. Gula D dipompa ke putaran belakang D2,sedangkan tetesnya merupakan hasil samping karena kadar gulanya sudah cukup rendah.
Pada putaran D2 ini dipisahkan gula D2 selanjutnya dilebur ekmbali dan dialirkan ke pan masakan D sebagai bahan campuran pada masakan D.

6. Stasiun Penyelesaian

Stasiun penyelesaian berfungsi menyelesaikan hasil gula yang telah mkristal. Pada bagian ini Kristal-kristal gula hasil dari putaran SHS dilewatkan pada telang goyang.
Pada talang goyang ini gula-gula yang menggumpal akan pecah menjadi butiran-butiran gula, pada saat butiran-butiran gula ini berjalan sepanjang talang dihembuskan udara agar menjadi kering dan dingin. Udara dihembuskan dengan mengunakan blower. Untuk mengangkut Kristal-kristal gula ke talang saringan digunakan “bucket elevator”.
Pada talang saringan ini Kristal-kristal gula dipisahkan, Kristal gula yang tidak memenuhi ukuran standart dilebur dan diproses kembali sedangkan butiran gula yang standart diambil sebagai produk. Gula yang dihasilkan sebagai produk pada PG X adalah jenis SHS IA.
Utilitas
Di PG X utilitas yang digunakan adalah air,uap,listrik, dan udara.
1.      Air
Untuk memenuhi kebutuhan air proses dan air minum perusahaan karyawan digunakan air yang diambil dari sungai. Sebelum air digunakan sebagai air proses dan air minum, maka dilakukan pengolahan air. Disini pengolahan air dilakukan secara fisis, dimana air dilewatkan dalam bak-bak pengendapan. Bak pengandapan ini terbuat dari pasangan batu bata, berbentuk persegi panjang dengan ukuran 25m x 12m. Perjalanan air didalam bak melalui beberapa sekat, aga lumpur dan partikel-partikel lainnya mengendap. Bak pengandapan ini dilengkapi dengan pompa untuk memasukan air ke peti reasevoir air pengisi ketel dan tangki air kali. Tangki air kali ini berfungsi untuk menampung air kali yang bersih, dimana air kali ini digunakan sebagai isian ketel apabila air embun tidak mencukupi dan digunakan sebagai air minum.

2.      Uap
Uap diperoleh dari ketel uap, untuk memenuhi kebutuhan uap PG X menpunyai 9 buah ketel uap jenis pipa api. Ketel pipa api ini termasuk ketel bertekanan rendah, dengan tekanan kerja 68 kg/cm2. Uap digunakan untuk menajlankan mesin-mesin uap atau pesawat pengolahan dan sebagian utnuk proses pengolahan gula.
Air dalam ketel uap dipanaskan sampai mendidih, maka air akan menguap. Uap ditampung dalam dom uap, baru yang dihasilkan dialirkan ke mesin-mesin atau pesawat pengolahan melalui pipa-pipa. Pemanas yang digunakan adalah hasil pembakaran bahan bakar (ampas tebu) pada dapur ketel. Ampas ini diumpankan kedalam dapur ketel melalui pintu pengumpan dengan menggunakan tenaga orang.
3.      Listrik
Kebutuhan tenaga listrik diperoleh dari genset yang digerakan oleh mesin disel maupun mesin uap. Lokasi genset terbagi menjadi 2 yaitu:
a.       Genset dengan penggerak mula diesel, bertempat diluar pabrik.
b.      Genset dengan penggerak mula mesin uap, bertempat didalam pabrik.
Dalam masa giling pembangkit listrik yang digunakan adalah yang digerakan dengan mesin uap dan dibantu dengan mesin diesel. Pembangkit listrik yang digunakan diluar masa giling adalah mesin diesel. Kebutuhan Tenaha listrik menggunakan 2 macam arus: AC dan DC. Adapun arus AC diperoleh dari generator dengan penggerak mesin uap.
4.      Udara
Udara digunakan sebagi pembantu pembuatan gas SO2 dalam dapur pembakaran belerang. Udara yang digunakan dengan 0,5-0,6 kg/cm2.

Kesimpulan
Pada dasarnya proses pembuatan gula di PG X adalah melalui 6 tahap yaitu:
1.      Stasiun penggilingan nira
2.      Stasiun pemurnian
3.      Stasiun penguapan
4.      Stasiun kristalisasi
5.      Stasiun pemisahan
6.      Stasiun penyelesaian.
Sedangkan Utilitas yang digunakan ada 4 yaitu:
1.      Air\
2.      Uap
3.      Listrik
4.      Udara.
DAFTAR PUSTAKA
Halim K, Rapidoor Clarifier dalam Industri Gula, LPP Yogyakarta, 1973
Hugot E, Hand Book of Cane Sugar Engineering, Elsevier Publising Company, Amsterdam, 1960
Landdheer A, Pesawat Industri Gula’ diterjemahkan oleh Madukoro dan Soerjadi, LPP Yogyakarta, 1977
Raspati, Pengantar Kimia Organik II, Aksara Baru Jakarta 1977
Soerjadi, Peranan Komponen Batang Tebu dalam Pabrikasi Gula’ LPP Yogyakarta, 1977
Soenardi Djojopranoto R, Pesawat- pesawat Industri Gula, LPP Yogyakarta, 1977
Soerjadi, Peralatan Pembuat Hampa, LPP Yogyakarta, 1980







Jawaban:

PROSES PEMBUATAN GULA DARI TEBU PADA PG X
1.      Resume:
Dilihat dari pengalaman yang dibuat penulis dikatakan bahwa dalam pembuatan gula dibutuhkan beberapa tahapan dan proses yang tidak sedikit, sehingga butiran gula bisa terbentuk dan dapat digunakan oleh masyarakat umum. Dari gula tersebut masyarakar dapat membuat berbagai makanan yang didalamnya mengandung gula.

2.      Analisis:
a.       Bagian Pendahuluan
Banyak masyarakat mengkonsumsi gula tetapi banyak juga  masyarakat yang tidak mengetahui bagaimana caranya gula tersebut terbentuk. Maka dari pada itu penulis akan memberikan pengetahuan bagaimana caranya membuat gula itu.

b.      Teori dan Kajian Pustaka
Masayarakat sering sekali membuat makanan atau kue yang berbahan dasar gula. Disini penulis memberikan pengalamannya tentang bahan-bahan dasar yang dapat dijadikan sumber dimana gula dapat terbentuk. Penulis juga memberikan pengalamannya tentang unsure-unsur yang terkandung didalam bahan pembuatan gula dalam hal ini yang menjadi pokoknya adalah tebu.

c.    Metode penelitian
Disini penulis ingin memberitahukan kepada pembaca bahwa dalam pembuatan penulisan ilmiah ini yang berjudul “ PROSES PEMBUATAN GULA DARI TEBU PADA PG X ”  penulis menginginkan agar para pembaca percaya bahwa penulis benar-benar dalam membuat penulisan ilmiah ini penulis melakukannya dengan menggunakan berbagai penelitian sehinga hasil yang diinginkan dapat tercapai.

d.      Hasil dan Pembahasan
Dalam pembuatan gula di PG X dilakukan dengan beberapa kali proses diamana bahan dasar yaitu tebu digiling dari tempat penggilingan I hingga ke penggilingan terakhir (IV). Sesudah itu hasil dari penggilingan tersebut disaring dan diolah sedemikian rupa dengan campuran-campuran didalamnya dan pemanasan yang berulang  dari stasiun I ke stasiun II begitu seterusnya hingga stasiun VI  dan terbentuklah sebuah kristal putih yang disebut dengan namanya gula.
e.       Kesimpulan
Penulis hanya memberi tahu bahwa dalam pembuatan gula di PG X dilakukan dengan 6 tahap stasiun yang dilakukan dan 4 unsur yang diperlukan dalam penyempurnaan pembuatan gula.

3.    Koheransi
       Dari penulisan ilmiah diatas hubungan antara kalimat dan juga hubungan anatara setiap alinea sudah bagus sehingga pembaca tidak dibuat bingung bila membaca penulisan tersebut karena hubungan-hubungannya sangat terkait dan juga dalam memberikan keterangan setiap proses dan tahap-tahapnya sudah jelas.


4.    Kelebihan dan Kekurangannya
v  Kelebihan penulisan Ilmiah diatas :
·         Dalam penulisan ilmiah diatas sudah sangat jelas dari maksud dan tujuannya. Karena dari awal proses hingga menghasilkan gula penulis sudah menjelaskannya secara mendetail sehingga meskipun masih banyak kata-kata yang tidak mudah untuk dimengerti
·         Kata-kata yang dipakai mudah dimengerti oleh para pembaca

v  Kekurangan penulisan Ilmiah diatas :
·         Masih banyak kata-kata yang tidak lengkap seperti:

o   sumerr (sumber)
o   dismping (disamping)
o   utnuk (untuk)
o   larus (larut)
o   deberi (diberi)
o   banya (banyak)
o   nia (nira)
o   gla (gula)
o   ebrkapsitas (berkapasitas)
o   menggunakn (menggunakan)
o   ebrfungsi (berfungsi)
o   ekkentalan (kekentalan)
o   emnghancurkan (menghancurkan)
o   mmmm (mm/milimeter)
o   kg/cm@ (kg/cm2)
o   krena. (karena)
o   sebanya (sebanyak)
o   steusnya (seterusnya)
o   peanas (panas)
o   memeprcepat (mempercepat)
o   ernih (jernih)
o   ekmbali (kembali)
o   mkristal (mengkristal)
o   utnuk (untuk)
Sehingga arti dan maksudnya bisa berubah dari apa yang dinginginkan
·         Masih terdapatnya kata yang tidak diberikan arti dan maksudnya seperti :
- Utilitas ( unsure-unsur atau kandungan-kandunganya)
-   Blower (alat untuk mngeluarkan udara seperti halnya kipas angin)
-   Genset (pembangkit listrik dengan bahan bakar minyak (ada yg bensin dan solar)
-   Stasiun penggilingan (tempat atau usaha menggiling,melumatkan, mengupas)
-   Reaktor (sulfitator) yaitu :tempat atau bejana yang berbentuk seperti kerucut)
















Nama kelompok         :           1. ARI NOVIANTO                (10109213)
2. AGUS PURNOMO          (10109180)
5. EKO SUPRIYANTO        (10109137)
4. IMRAN DEWANTARA    (13109806)
6. MASHADHI ERWINDAYA(13109203)
7. SINGGIH PAMUJI           (13109557)
8. YANUARTO TEGUH      (18109549)

Kelas                          :           3KA20
Pelajaran                   :           Bahasa Indonesia 1

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar